Senin, 02 April 2012

si pecinta kopi

Pahit. Manis. Asam. Itulah hidup. Selalu ada rasa yang terus bergilir. berputar bagai roda yang memiliki rotase. Semua mengalaminya bahkan bulan, bumi dan planet lainnya berotase.
Mengapa hidup tidak selalu manis?
Coba kau bayangkan betapa anehnya jika kau meminum secangkir kopi yang dominan gula/pemanis lainnya. Apakah akan terasa nikmat?
Mengapa ada asam dan ada pahit?
Coba kau bayangkan apa perbedaan kedua rasa itu. Memang sulit dibedakan jika kau tidak dengan seksama merasakannya. Akan ada sensasi yang berbeda dari masing-masing rasa. Namun cobalah kau rasakan di secangkir kopi. Manakah yang mendominan? apakah pahit?
Semua jawaban hanya bisa dijawab oleh lidahmu saja. Cukup dengan lidahmu. Jangan bertanya kepada temanmu, saudaramu, orang tuamu, bahkan kucingmu. Hanya lidahmu yang tahu.
Hanya kau yang mengetahui kopi manakah yang berjodoh dengan lidahmu.
Jangan kau bertanya kepada siapapun tentang siapa jodoh lidahmu. Sungguh, kubilang hanya lidahmu. Lidahmu. Lidahmu.
Cukup kenali, rasakan dan beritahukan kepada sistem otak si Jaksa itu. Beritahukan hasilnya. Rasa dari hati dan jantungmu yang berdegup menyesuaikan irama teguk demi teguk.
Mata, bibir dan jarimu lah yang menyimpulkan jawaban sang jaksa.
Tak perlu kau teriakkan dan menari-nari layaknya pesorak bola di lapangan. Aku tak perlu melihatnya.
Bukan, aku tahu bukan. Aku tahu kau bukanlah tipe orang pesorak.
Aku tahu kesenangan itu.
Mereka bersorak di antara debaran jantung yang tak tentu, berloncatan di sela pembuluh darah yang mengalir, menari diatas sinaran mata dan meluncur di atas senyuman.
Tatanan yang sederhana.
Bahagia diatas kebahagiaan.
Lewat jari yang menari terburu-buru , si pecinta kopi ini membuat ucapannya...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar