Kamis, 16 Februari 2012

One time at the dinner table

Diawali secangkir susu yang sudah mendingin
Tatapan yang tak bisa berhenti memandang cangkir kecil itu terus melekat dalam-dalam, seakan ada sesuatu dibaliknya.
Tubuh ini diam. Hanya hembusan nafas dan bunyi cangkir yang dihasilkan dari gesekan jari telunjuk kanan. Ditemani sosok wanita yang sudah bertahun-tahun ditinggal pergi suaminya untuk selamanya. Ia terus bercerita. Bercerita tentang masa lampau. Masa-masa indahnya sewaktu muda. Masa-masanya sewaktu dirinya masih seperti kapas putih yang terbang bebas diudara sejuk. Bermain bebas di desanya. Kisah bahagia, legenda desa, sampai kesedihannya yang mendalam. Sosok wanita yang rapuh namun tetap kokoh dengan akar-akar yang dimiliki sehingga ia masih bisa merasakan keberadaan semua yang hilang dan tentu saja dengan ukiran senyum diwajahnya yang lelah.
Sebentar-bentar ku berbinar, bertanya kepada wanita itu. Pengalaman kisahnya yang tak pernah ku temukan di kota ini, Jakarta.
Aku memang tidak mengetahui dengan jelas dimana desa itu berada. Sependengaranku beliau bercerita daerah dekat Cirebon. Ya, beliau memang asli Sundanese. haha :)
Danaunya memiliki kisah legenda tentang kerajaan bawah danau. Banyak warga kampung yang hilang tampa bekas. Tak ada bukti-bukti pasti yang menyangkut pembunuhan. Namun ada sedikit bukti-bukti yang meyakinkan bahwa kerajaan bawah danau itu ada. Mereka menyebutnya dengan kata siluman.
Ada satu anak sebaya denga anak wanita itu. Dia adalah anak paling apik. Apik luar dalam. Dia anak laki-laki tertampan di kampungnya yang memiliki kembaran perempuan yang sangat jauh persamaannya. Aneh, namun nyata.
Suatu hari ia dan kawan-kawan pergi bermain ke danau tersebut. Berlomba-lomba dalam permainan semacam hide and seek atau petak umpat versi air. Menyenangkan. Namun hari itu tak biasanya anak itu berkata "Nanti jika aku tidak muncul, kalian cari saja hingga ke hulu ya!"
Dan benar, anak itu tidak nampak. Bahkan sampai semua anak mencari ke hulu juga tidak ada. Semua mencarinya. Namun percuma. Tidak ada tanda-tanda apapun tentang keberadaannya. Menghilang. Karna ketakutan dan rasa bersalah teman-temannya itu, berita tersebut tidak langsung diberitahukan kepada warga.
Esok harinya baru berita itu bermunculan. Seluruh warga desa ikut serta mencarinya. Namun pencarian tersebut berujung kecewa. Tetap tak ada tanda-tanda.
Hingga pada suatu ketika ada tetangganya bilang bahwa sebelum kejadian hilangnya anak tersebut, ia bermimpi bahwa anak itu dicari oleh seorang laki-laki berbadan kokoh dengan menggunakan pakaian dan atribut lengkap layaknya dari sebuah kerajaan yang menunggang kuda cantik. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Mimpi itu seperti nyata. Sayangnya ia juga tidak mau ambil pusing memikirkan mimpi konyol itu. Jadi ia memutuskan tidak bercerita kepada siapapun. Dan setelah kejadian barulah ia menyesal.
Ada pula tetangga lain memberitahukan bahwa telah didatangi oleh warga lain yang memberitahukan bahwa anak laki-laki itu telah diculik ke sebuah kerajaan. Namun tak ada yang percaya sehingga semua warga saat itu mengabaikan berita konyol tersebut. Dan selalu pada akhirnya semua warga menyesal. Air mata penuh sesal yang menghujani warga desa.
Bukan hanya danau yang memiliki kisah menakutkan. Namun sumur pabrik tebu dekat rel kereta api juga tak kalah seru. Sumur tersebut dibangun tidak atas dasar izin 'pemilik tanah'. Syarat utama pembangunan sumur tersebut adalah tumbal. Dan akibatnya selalu berdampak kepada warga desa tersebut.
Yang menyedihkan adalah seorang ibu yang hilang entah kemana. Hilang di rumah sendiri. Bayi nya ditinggalkan sendiri. Anak-anaknya yang lain saat itu tidak berada di rumah. Aneh memang. Saya yang mendengar cerita tersebut juga heran.
"Hanya bayi dan perhiasan ibu tersebut yang ditinggalkan" , lanjut wanita yang sedari tadi duduk di depanku.
Setelah banyaknya kejadian seperti itu, pekerja-pekerja pabrik tersebut sering sekali mengalami kesurupan. Ada yang sampai sakit demam tinggi dan kejang-kejang.
"Saya minta popok" tiru wanita itu.
Lucu. Ternyata ada keluarga dibawah sumur tersebut. Ibu yang hilang itu rupanya sudah memiliki keluarga baru. Mereka kadang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup dibawah sumur.
"hahaha, ya jelas sulit. sumurnya dalam banget loh" jelasnya.
Dan aku bertanya dengan mata ingin tahu " terus sampe sekarang masih ada sumurnya, Mbak?"
"ooh, ya masih ada, Ndin..."
"...."
Wah, apakah kisah itu masih berlanjut ya? Hmmm rumit. Pasti kalau aku bertanya jawabannya pasti "iya".
Tak sadar aku terkekeh sendiri melihat cangkir susuku sudah kosong.

Oke, intinya adalah kehidupan kita dan kehidupan gaib sangatlah berdekatan. Maka bagi anda-anda yang kurang percaya bahkan tidak percaya dengan adanya gaib adalah salah besar. Sebab makhluk itu memang ada, bahkan Tuhan kita; Allah SWT pun gaib. Jadi, khusus nya yang beragama islam dan tidak percaya adanya gaib sama saja kalian tidak mempercayai adanya Allah ;)
hehe. Sekian. Terimakasih dan sampai jumpa....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar